You are here: Home » Biologi » Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Kedelai

Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Kedelai

Klasifikasi dan Morfologi Tanaman Kedelai – Kedelai, atau kacang kedelai, merupakah salah satu tanaman berjenis polong-polongan. Berdasarkan peninggalan arkeologi, tanaman kedelai telah dibudidayakan sejak 3500 tahun yang lalu di Asia Timur, serta banyak digunakan sebagai bahan dasar dari banyak makanan di daerah tersebut seperti kecap, tempe, juga tahu.

Saat ini kedelai banyak digunakan sebagai sumber protein murah untuk makanan hewan dan makanan kemasan. Produk dari kedelai, seperti TVP merupakan bahan baku dari berbagai pengganti daging dan susu. Kacang kedelai memiliki kandungan asam fitat, mineral, dan vitamin B yang tinggi. Oleh karena itu, kedelai disebut sebagai sumber utama protein nabati dan minyak nabati dunia.

Agar lebih mengenal tanaman kedelai, berikut klasifikasi beserta morfologi kedelai:

  • Kingdom/Regnum Plantae (Tumbuhan)
  • Divisi Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
  • Kelas/Classis  Magnoliopsida
  • Ordo  Fabales
  • Famili/Suku  Fabaceae (Polong-polongan)
  • Genus/Marga  Glycine
  • Spesies/Jenis  Glycine Max (L.) Merr

Biji

Kedelai termasuk dalam tumbuhan dikotil. Dua keping bijinya terbungkus kulit biji dan tidak mengandung jaringan endosperma. Embrio terletak di antara keping biji. Warna kulit biji kedelai adalah kuning, hitam, hijau, dan coklat. Biji kedelai umumnya berbentuk bulat lonjong, tetapi ada pula yang bundar atau bulat agak pipih.

Kecambah

Biji kedelai akan berkecambah bila memperoleh cukup air. Kecambah kedelai tergolong epigeous, sehingga keping bijinya muncul di atas tanah. Warna hipokotilnya adalah ungu atau hijau yang terhubung dengan warna bunga. Kedelai yang berhipokotil ungu akan berbunga ungu, sedang yang berhipokotil hijau berbunga putih. Kecambah kedelai kerap digunakan sebagai sayuran (tauge).

Akar

Tanaman kedelai berakar tunggang. Jika kelembapan tanah turun, akar akan berkembang dengan masuk lebih ke dalam tanah agar dapat menyerap unsur hara dan air. Pertumbuhan akar ke samping dapat mencapai jarak 40 cm, dengan kedalaman hingga jarak 120 cm. Akar kedelai berfungsi sebagai tempat bertumpunya tanaman, alat pengangkut air dan unsur hara, serta sebagai tempat terbentuknya bintil-bintil akar, selain sebagai tempat bertumpunya tanaman dan pengangkut air serta unsur hara. Bintil akar tersebut berupa koloni dari bakteri Bradyrhizobium japonicum yang dapat mengikat nitrogen dan bersimbiosis mutuliasme dengan kedelai.

Batang

Batang tanaman kedelai bisa mencapai jarak 30–100 cm. Satu batang dapat membentuk 3–6 cabang, tetapi bila jarak antartanaman rapat, jumlah cabang berkurang, atau tidak bercabang sama sekali. Tipe pertumbuhan batang kedelai dibedakan menjadi terbatas (determinate), tidak terbatas (indeterminate), dan setengah terbatas (semi-indeterminate). Tipe terbatas akan berbunga serentak dan mengakhiri pertumbuhan meninggi.

Tinggi tanaman pendek sampai sedang, ujung batang hampir sama besar dengan batang bagian tengah, daun teratas sama besar dengan daun batang tengah. Tipe tidak terbatas akan berbunga secara bertahap dari bawah ke atas, dan tumbuhan yang terus tumbuh. Tanaman yang batangnya sedang sampai tinggi, memiliki ujung batang lebih kecil dari bagian tengah. Karekteristik tipe tanaman setengah terbatas ada di antara kedua tipe lainnya.

Bunga

Bunga kedelai termasuk bunga sempurna. Penyerbukan terjadi pada saat mahkota bunga masih menutup, sehingga probabilitas kawin silang alami sangat kecil. Bunga terletak pada ruas-ruas batang, berwarna ungu atau putih, mengikuti warna hipokotilnya. Tidak semua bunga bisa menjadi polong meskipun penyerbukan sempurna telah terjadi. Kurang lebih 60% bunga rontok sebelum membentuk polong.

Buah

Buah kedelai berbentuk polong. Setiap tanaman kedelai biasanya mampu menghasilkan 100–250 polong. Polong kedelai berwarna kuning kecoklatan atau abu-abu dan berbulu. Selama proses pematangan buah, polong yang mula-mula berwarna hijau akan berubah menjadi kehitaman.

Daun

Pada nodus pertama tanaman kedelai yang tumbuh dari biji, sepasang daun tunggal akan terbentuk. Selanjutnya, pada semua nodus di atasnya, daun majemuk selalu dengan tiga helai mulai terbentuk. Helai daun tunggal bertangkai pendek, sementara daun majemuk bertangkai agak panjang. Masing-masing daun mempunyai bentuk oval, tipis, dan berwarna hijau. Permukaan daun berbulu halus (trichoma) di kedua sisinya. Tunas atau bunga nantinya akan muncul pada ketiak tangkai daun majemuk. Daun menguning dan gugur setelah menua, dimulai dari daun yang menempel di bagian bawah batang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *